Keroncong Surabaya, Markasanan dan Wajik Abang
Penulis: Nurul Huda
Keroncong adalah sebuah jenis musik yang sangat khas di Indonesia dab telah hidup dan berkembang selama berabad-abad. Para pakar telah menyebut ada berbagai versi tentang asal-usulnya.
Salah satu versi terkuat menyebutkan musik keroncong sangat terpengaruh oleh musik yang dibawa Portugis. Sementara yang lain mengatakan keroncong adalah murni kreativitas lokal bangsa Indonesia.
Ada juga yang menyebut musik ini adalah hasil perpaduan unik antara musik Barat (Portugis) dengan unsur-unsur musik Timur (Indonesia). Perdebatan ini justru memperkaya khazanah kebudayaan musik nasional.
Surabaya menjadi bagian penting dari perkembangan musik keroncong di tanah air. Dalam tulisan Rully Aprilia Zandra tentang Sejarah Musik Keroncong di Surabaya tidak lepas dari siaran Radio Republik Indonesia. "Perkembangan musik keroncong RRI Surabaya sangat pesat dan mampu menarik minat masyarakat luas, terutama generasi muda, karena RRI Surabaya dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Perkembangan musik keroncong dari 1960 sampai 1999 semakin matang dan mempunyai mutu yang dapat diperhitungkan," tulis Sulistyohadi dalam salah satu studinya. RRI Surabaya memberi kesempatan tampil bagi grup orkes dan penyanyi dan menyiarkan penampilan mereka dalam acara khusus.
Menelusuri Gaya Awal
Sejarah Musik Keroncong Surabaya sebelum abad ke-20 memang untuk dilacak secara detail. Belum ada pembentukan gaya keroncong yang khas. Pada masa itu, kelompok musisi umumnya memiliki formasi sederhana. Mereka hanya terdiri dari dua atau lebih ukulele. Alat musik rebana juga sering disertakan. Namun beberapa kelompok juga sudah dilengkapi mandolin. Susunan instrumen ini bertahan hingga akhir abad ke-19. Inilah bentuk awal konfigurasi instrumen keroncong di Surabaya.
Awal abad ke-20 Beberapa masyarakat Surabaya mulai tertarik mengembangkan musik ini. Padahal, saat itu keroncong sering mendapat ejekan sebagai musik kampungan. Situasi ini mirip dengan perkembangan keroncong di Jakarta. Maka kemudian banyak grup musik bermunculan di Surabaya. Salah satunya adalah "Lief Java". Wang Suwardi mendirikan grup ini pada tahun 1922. Grup lain yang ikut meramaikan adalah "Melayang", "Monte Carlo", dan "Doodskopen".
Tahun 1933 menjadi momen penting bagi Surabaya. Program radio yang khusus menyiarkan musik keroncong lahir. Siaran ini segera mempopulerkan keroncong di Surabaya dan sekitarnya. Hal ini memicu semangat untuk membentuk orkes-orkes keroncong baru. Seniman musik Surabaya juga mulai bersaing dalam kreativitas. Semangat ini akhirnya melahirkan ide revolusioner. Muncul pula ciri khas gaya Surabaya yang berbeda.
Pada tahun 1935, terciptalah inovasi penting. Lagu keroncong "Rindu Malam" muncul. Lagu ini menggunakan kata-kata berupa syair, bukan lagi lirik pantun. Setelah itu, lagu-lagu bersyair lain menyusul. Gesang menciptakan lagu-lagu terkenal. Contohnya adalah Keroncong Si Piatu (1938), Bengawan Solo (1940), dan Saputangan (1941). Lomba-lomba kemudian sering muncul dan menambah gairah dalam bagi perkembangan musik jenis ini.
Perubahan Selera dan Gaya Markasanan
Tahun 1942, pendudukan Jepang membawa dampak signifikan. Segala sesuatu yang berbau Barat berusaha dihapus. Musik keroncong yang tadinya dianggap musik kelas bawah justru mendapat perhatian. Kemudian era 1960-an adalah masa pertumbuhan pesat di Surabaya. Program siaran khusus keroncong RRI Surabaya memacu lahirnya grup baru. Orkes Keroncong (OK) Aneka Warna meraih popularitas tinggi. Markasan memimpin orkes ini sejak 1960 dan membawa warna baru ke Surabaya. Karya monumental mereka adalah lagu 'Keroncong Wajik Abang'. Aransemen lagu ini sangat berbeda. Lagunya juga istimewa karena liriknya berisi kritik sosial. Hal ini tidak umum pada keroncong gaya lama, Solo, atau Jakarta. Gaya lain umumnya menggambarkan alam atau pahlawan, maka gaya Surabaya yang syarat kritik sosial ini disebut 'Gaya Markasanan'.
Perkembangan gaya Markasanan sempat terhenti pada 1965 hingga 1967. Pemberontakan G30S/PKI terjadi membuat perkembangan keroncong mandek. Setelah kondisi sosial politik Surabaya mulai stabil pada 1967, orkes yang sempat bubar kembali muncul. OK Aneka Warna bahkan terpecah menjadi dua grup. Grup pertama konsisten memainkan gaya Markasanan. Grup kedua mencoba menggabungkan empat konsep gaya populer. Mereka memadukan gaya Lama, Jakarta, Solo, dan Markasan.
Warna keroncong Surabaya terus berubah. Perubahan selera masyarakat memengaruhinya. Kemajuan teknologi, khususnya alat musik elektrik, juga berperan besar. Perkembangan teknologi memunculkan kontroversi. Penggunaan synthesizer dan gitar elektrik sering diperdebatkan. Bahkan ada yang menyingkirkan biola dan flute
Pada tahun 1970 an Rudi Pirngadi juga melakukan pembaharuan besar. Ia membentuk orkes keroncong dengan formasi orkes simfoni dan memasukkan lagu-lagu Barat terkenal. Orkes keroncong mengiringi lagu-lagu barat kala itu. Bahkan yahun 1971, lomba di Jawa Timur mencatat sejarah. Salah satu peserta memasukkan paduan suara dalam pertunjukan. Ini adalah pertama kalinya orkes keroncong mengiringi paduan suara. Kini telah muncul berbagai bentuk penyajian bervariasi. Contohnya adalah congdut (keroncong dangdut) dan keroncong reggae. Perkembangan Sejarah Musik Keroncong Surabaya sejak 1971 terus berlanjut. Namun, tidak ada perubahan ciri yang sangat menonjol sejak saat itu.
Advertisement