Lima Nasihat Syekh Ibrahim bin Adham pada Lelaki Pendosa
Ini sebuah kisah tentang sufi besar bernama Ibrahim bin Adham dan seorang pendosa. Cerita bermula ketika Ibrahim bertemu dengan seorang lelaki yang hidupnya akrab dengan gelapnya kemaksiatan. Mencuri adalah kebiasaannya. Demikian pula dengan menipu dan berzina. Pokoknya lelaki itu hidup penuh kemaksiatan.
Namun pada suatu hari, lelaki pendosa itu tiba-tiba diserang rasa gelisah, Dirinya ingin bertemu dengan Syekh Ibrahim bin Adham. Ulama besar ini merupakan salah satu tokoh sufi besar yang hidup pada abad ke-8 M. Ia berasal dari Balkh (kini wilayah Afghanistan) dan dikenal sebagai keturunan bangsawan. Dengan gelisah yang tak terbendung, lelaki itu memberanikan diri menemui: Ibrahim bin Adham. Ia datang dengan dada sesak, penuh rasa malu dan putus asa.
“Wahai Tuan Guru, aku ini pendosa yang rasanya tak mungkin bisa berubah. Tetapi… jika ada jalan untuk keluar dari semua ini, ajarilah aku,” ujarnya lirih.
Melihat kesungguhan lelaki itu, Ibrahim bin Adham memandangnya penuh welas asih. “Jika engkau sanggup berpegang pada lima perkara yang akan aku sebutkan,” ujarnya tegas, “niscaya dirimu akan jauh dari maksiat,” jawabnya.
Mendengar perkataan tersebut, lelaki itu mengangguk, berharap sekaligus takut. “Apa lima perkara itu, Tuan Guru?”
“Bila engkau hendak berbuat dosa, lakukanlah di tempat yang Allah tidak bisa melihatmu,” ungkap Syekh Ibrahim.
Lelaki itu langsung terhenyak. “Tuan Guru… bagaimana mungkin? Allah melihat segala sesuatu. Sekalipun aku bersembunyi dalam gelap, di balik pintu terkunci, bahkan di celah sekecil lubang semut… Dia tetap mengetahui,” jawabnya.
Nasihat Selanjutnya
Syekh Ibrahim kembali menatapnya lembut, dan berkata, “Kalau tetanggamu, sahabatmu, atau orang yang kau hormati melihatmu melakukan maksiat, apakah engkau tetap melakukannya? Jika kepada manusia saja engkau malu… mengapa tidak malu kepada Allah yang selalu melihatmu?”
Lelaki itu menunduk, tak mampu menjawab.
Tak lama kemudian Syekh Ibrahim melanjutkan, “Bila engkau hendak bermaksiat, jangan makan rezeki Allah.”
Lelaki itu kembali terkejut dan terdiam, kemudian ia berkata, “Tuan Guru… bukankah semua yang kupunya, bahkan air liurku sendiri, adalah rezeki Allah?”
“Masih pantaskah kita menikmati rezeki-Nya sementara kita menentang perintah-Nya? Jika engkau menumpang pada seseorang lalu setiap hari menyakitinya, masihkah engkau punya muka untuk terus makan darinya?” kata Syekh Ibrahim menjawab. Lelaki itu menggigit bibirnya, malu semakin dalam.
Dengan menghela nafas, Syekh Ibrahim melanjutkan, “Bila engkau hendak berdosa, jangan lagi tinggal di bumi Allah.” Lagi-lagi nasehat tersebut membuat lelaki itu tersentak, hampir tak percaya, dan kemudian berkata, “Tuan Guru… seluruh bumi, langit, dan segala isinya adalah milik Allah. Bagaimana mungkin aku keluar dari milik-Nya?”
“Begitulah,” jawab Ibrahim bin Adham. “Engkau bertamu ke rumah seseorang, makan dari miliknya, tetapi mengabaikan aturannya… apakah itu pantas?,” jawabnya.
Malaikat Maut
Syekh Ibrahim melanjutkan perkataannya. “Jika engkau tetap ingin bermaksiat lalu malaikat maut datang mencabut nyawamu, tolaklah ia,” ujar Syekh Ibrahim dengan nada tegas.
Mendengar hal tersebut, lelaki itu membelalakkan mata. “Tidak mungkin, Tuan Guru! Tak ada manusia yang mampu menolak malaikat maut.”
“Benar.Jika engkau tahu tak bisa mengelak dari kematian, mengapa engkau masih bermain-main dengan dosa? Bagaimana jika maut datang ketika engkau sedang mencuri, menipu, atau berzina?” jawab syekh Ibrahim.
Lelaki itu mulai menangis semakin keras, dadanya berguncang. Kata-kata itu menampar batinnya. Air mata mulai jatuh perlahan. “Jika engkau mati dalam keadaan berdosa dan malaikat Malik hendak memasukkanmu ke neraka, mintalah hidup sekali lagi, tambahnya.
Lelaki itu terisak dan berkata, “Tuan Guru… hidup hanya sekali. Mana mungkin aku meminta kembali sesuatu yang tak akan kembali?”
“Betul. Hidup hanya sekali. Maut datang tanpa janji. Dan setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Jika hidup hanya sekali, mengapa engkau rela menghabiskannya dalam kubangan maksiat,?” jawab Syekh Ibrahim dengan lembut.
Tidak lama kemudian lelaki ahli maksiat itu tak mampu lagi berdiri. Ia jatuh tersungkur dan menangis sejadi-jadinya. Kemudian ia memohon bimbingan untuk bertobat. Melihat hal itu Ibrahim bin Adham meraih bahunya, menenangkannya. Syekh Ibrahim berjanji akan membantunya menuju jalan yang lebih bersih. Sejak hari itu, lelaki yang dulunya dikenal sebagai ahli maksiat berubah menjadi seorang ahli ibadah.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement