Monyet Ekor Panjang Serang Warga Sukorambi Jember
Warga Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, tengah dilanda keresahan akibat kemunculan seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang kerap menyerang warga.
Dalam kurun hampir tiga pekan terakhir, tercatat tujuh orang menjadi korban gigitan, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Data dikutip dari bbksda Jatim, korban akibat serangan monyet ekor panjang mengalami luka serius. Di antaranya mulai dari telapak kaki hingga betis yang hampir putus uratnya. Pola serangan monyet liar ini berulang: datang dari belakang, mendadak, dan sulit diantisipasi.
Dugaannya, monyet tersebut menunjukkan perilaku berbeda dari satwa liar hutan. Keberaniannya mendekati manusia menimbulkan dugaan bahwa satwa ini dulunya merupakan peliharaan yang dilepas atau lepas sendiri. Hal ini menegaskan bahaya memelihara satwa liar, yang berpotensi menimbulkan konflik, penyebaran penyakit, hingga kerugian sosial.
Balai Besar KSDA Jawa Timur segera mengambil langkah cepat. Kepala BBKSDA Jatim, Nur Patria Kurniawan, menegaskan pentingnya edukasi kepada warga agar tidak memelihara maupun memberi makan satwa liar.
βJika satwa sudah terbiasa dengan manusia, mereka bisa menjadi agresif dan membahayakan keselamatan. Masyarakat harus berhenti memberi makanan agar satwa tidak mendekati pemukiman,β jelasnya dikutip di laman bbksda Jatim, Selasa 23 September 2025.
Selain itu, tim juga melakukan pendampingan medis kepada korban serta upaya pengendalian satwa. Namun, karena monyet yang lincah terus berpindah lokasi, upaya penangkapan sejauh ini belum berhasil.
Belajar dari Pohon Ficus: Solusi Jangka Panjang
Kasus konflik manusia-satwa ini menjadi pengingat bahwa akar masalah seringkali ada pada habitat yang menyempit. Satwa yang kehilangan sumber pakan di hutan terpaksa mencari makan di kebun warga.
Solusi sederhana namun berdampak besar kini mulai digalakkan: penanaman pohon ficus (beringin/ara) sebagai penyedia pakan alami bagi satwa seperti monyet ekor panjang.
Hal ini terinspirasi dari program konservasi di Cagar Alam Manggis Gadungan, di mana relawan bersama BBKSDA Jatim, Balai TN Kutai, dan PT Pupuk Kaltim menanam 12 bibit ficus. Pohon ini dikenal sebagai βpenjaga ekosistemβ karena mampu berbuah sepanjang tahun, bahkan saat pohon lain berhenti berbuah.
βJika satwa punya cukup makanan di habitatnya, mereka tidak perlu keluar hutan dan menyerang kebun warga,β ujar salah satu relawan Yayasan Masyarakat Ficus Indonesia.
Hidup Harmonis dengan Alam
Konflik monyet ekor panjang di Jember menjadi refleksi rapuhnya batas antara manusia dan alam. Meski Macaca fascicularis bukan satwa dilindungi, keberadaannya tetap penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Upaya pengendalian satwa harus dibarengi dengan pemulihan habitat. Menanam pohon ficus bukan sekadar aksi penghijauan, melainkan jembatan harmoni antara manusia, satwa, dan hutan.
Advertisement