Perlawanan dan Primbon Kiai Imam Tabbri
Kiai Imam Tabbri adalah salah satu ulama masyhur sebagai pujangga Jawa abad 19. Salah satu karyanya yang berjudul Kitab Primbon Syekh Tabbri sangat populer kala itu. Selain itu ada beliau juga dikenal sebagai pejuang melawan kolonial Belanda.
Jika menelusuri dunia maya, tokoh kelahiran Ponorogo ini selalu terkait dengan kajian kepustakaan Jawa Islam, khususnya naskah tentang sakaratul maut/ Selain itu juga naskah primbon atau doa puisi. Naskah-naskahnya menjadi bagian dari khazanah manuskrip Nusantara. Beliau juga merupakan tokoh penting dalam sejarah literatur Islam Jawa, sering dikaitkan dengan keluarga besar Pesantren Tinitar, Tegalsari, dan karyanya menjadi warisan budaya tak benda
Tentang ulama ini tergolong minim informasi. Beliau lahir dan tumbuh besar di lingkungan pesantren yang sangat kental. Kiai Ageng Muhammad Besari yang pendiri pondok pesantren Tegalsari Ponorogo. Syekh Tabbri adalah putra ketujuh dari Kiai Kholifah yang merupakan putra ke enam dari Kiai Besari. Tumbuh dalam lingkungan pesantren membuatnya memilikinya memiliki kapasitas pemikiran yang sangat luas. Selain itu Kiai Tabbri juga menjadi bagian dari ulama-ulama yang sangat keras menentang tirani kolonial.
Tidak hanya perang secara fisik, bentuk perlawanannya juga tercantum dalam berbagai karya monumentalnya yang bernama kitab primbon Syekh Imam Tabri. Sikap anti pemerintah ini menyebabkan Hindia Belanda sejak tahun 1840 M mulai berupaya menangkapnya. Beliau akhirnya lari dari kejaran dan menepi. Pardikan Kaliyoso tepatnya di Desa Blagungan, Donoyudan, Kalijambe, Sragen. Wilayah perdikan tersebut merupakan wilayah santri yang dipimpin oleh Kiai Abdul Jalal Kaliyoso. Tidak heran jika wilayah tersebut sangat aman untuk menjadi persembunyiannya. Di sana beliau kemudian membuat surau kecil dan berdakwah mengajarkan Islam di wilayah sekitarnya.
Blagungan kemudian menjadi tempat bermukim beberapa ulama jejaring Pangeran Diponegoro dan menjau Imam Tabbri mengabdikan diri untuk beribadah di surau kecil dan menyebarkan ajaran Islam ke masyarakat sekitar. Ia juga meneruskan perlawanan terhadap kolonialisme melalui pena. Di tanah perdikan Kaliyoso, Imam Tabbri menyelesaikan beberapa kitab yang menghimpun berbagai topik tulisan. Salah satu kitab adalah yang Primbon Haji Syekh Imam Tabbri dan selesai pada tahun 1857 M. Sambil berdakwah agama ulama ini juga menyebarluaskan narasi perlawanan melalui kitab-kitabnya. Aksi itu terus dilakukan sampai sang Imam berumur sekitar 90-100 tahun. saat Imam Tabbri berkehendak melaksanakan ibadah haji. Syekh Imam Tabbri meninggal dan dimakamkan di tanah Haromain.
Primbon Syekh Tabbri
Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri berisikan macam-macam pembahasan dalamnya seperti pembahasan primbon lainnya. Seperti primbon lainnya, isi primbon Syekh Tabbri juga tentang catatan mengenai penting suatu kegiatan ataupun ritual sebagaimana pujangga lainnya. Di dalamnya ada mantra, rumusan untuk mencari hari baik dan naas untuk kehidupan sehari-hari.
Selain ada mengenai wejangan kehidupan terkait mengenai watak seorang yang memiliki kekuatan linuwih atau kemampuan di atas orang lain. Kemampuan tersebut tidak boleh disalahgunakan. Selain itu ada juga wejangan tentang tirakat puasa. Menurutnya hasil dari tirakat tersebut bukan untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk keturunannya.
Primbon Syekh Tabbri juga menjelaskan mengenai ramalan seperti yang ada kitab Mujarobat. Salah sati contohnya menjelaskan tanda-tanda kedutan dari anggota tubuh. Menurut kitab tersebut kedutan adalah tanda akan datangnya seseorang atau alamat akan mendapatkan kebaikan maupun keburukan. Jika mengelami kedutan di jidatnya alamat akan mendapatkan rezeki yang halal. Sedangkan kedutan alis kanannya alamat akan dapat harta banyak.
Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri terbagi beberapa bagian. Ada bagian mengenai dakwah maulid, ilmu falaq, hizb, tauhid dan tasawuf. Selain itu juga ada sikap politik Haji Tabbri terhadap relasi kerajaan Surakarta dan pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Naskah menggunakan huruf Arab Pegon dan Jawa yang tertulis ppada kertas daluwang (dluwang) berukuran 23cm x 19cm dan tidak bergaris.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement