Dakwah Sosial KH. Zaini Mun’im
Sosok KH. Zaini Mun’im terkenal tidak hanya lewat dakwah di mimbar pengajian. Namun salah satu ulama masyhur Jawa Timur ini juga mempraktikkan dengan dakwah bil-hal seperti membangun irigasi, membuat sumur, dan memperkenalkan tanaman produktif demi kesejahteraan rakyat.
Sementara melalui dakwah bil-maqal, ia menggerakkan pengajian, penyuluhan, dan pembinaan dai untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan kemalasan. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Moh Zuhri Zaini, Kiai Mun’im juga seorang pebisnis tembakau, dan beliau membudidayakan tembakau hingga mampu membangun masjid pertama di pesantren ini dari hasil penjualannya.
“Beliau mengajarkan ekonomi adalah sarana ibadah dan perjuangan,” ujarnya. Kiai Zuhri menceritakan bagaimana Kiai Zaini Mun’im melakukan dakwah kultural secara bijak. Salah satunya adalah mengubah tradisi sesajen berubah menjadi tradisi tumpengan yang ada pembacaan doa Surat Yasin dan Tahlil. “Cara mengubah tradisi yang tidak sesuai syariat dilakukan dengan bijak, tidak dengan marah-marah apalagi memakai pentungan. Ini perlu kita tiru,” ungkapnya.
Itulah sosok Kiai Zaini Mun’im yang masa hidupnya tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pesantren dan perjuangan ulama Nahdlatul Ulama di Jawa Timur. Pria kelahiran Pamekasan, Madura, p1906 adalah pendiri sekaligus pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Beliau adalah ulama, pendidik, pejuang kemerdekaan, dan penggerak dakwah sosial yang jejaknya masih terasa hingga hari ini.
Ayahnya, KH Abdul Mun’im adalah seorang kiai sekaligus saudagar, dan ibundanya bernama Nyai Hamidah. Dari jalur nasab, KH Zaini Mun’im masih terhubung dengan keluarga bangsawan Sumenep melalui Bindereh Sa’ud (Bendoro Saod) yang keturunan Pangeran Ketandur cucu Sunan Kudus. Perpaduan darah bangsawan dan kiai inilah yang membentuk kepribadiannya: teguh, berani, mandiri, religius, serta menjunjung tinggi sikap saling menghormati.
Pendidikan KH Zaini Mun’im mulai dari Sekolah Rakyat (Volk School). Kemudian beliau berkelana dari pesantren ke pesantren. Beliau pernah nyantri di Pesantren Pademangan Bangkalan, Pesantren P Banyuanyar Pamekasan. Tercatat pula pernah mondok di Pesantren Sidogiri Pasuruan hingga Pesantren Tebuireng Jombang. Dari berbagai pesantren membuatnya berwawasan. Tradisi intelektual itu membawanya melanjutkan studi ke Mekkah. Di kota suci itu Kiai Mun’im memperdalam ilmu Al-Qur’an, fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, balaghah, hingga tasawuf kepada para ulama terkemuka. Di sana pula ia memperoleh ijazah Tarekat Syadziliyyah dari Syekh Syarif Muhammad bin Ghulam as-Singkiti.
Masa penjajahan
Masa pendudukan Jepang menjadi ujian berat bagi KH. Zaini Mun’im. Beliau terkenal aktif memberikan penyuluhan kepada petani dan memimpin Barisan Pembela Tanah Air (PETA). Ketika perlawanan para kiai memuncak pada tahun 1943, banyak ulama ditangkap. Demi keselamatan dakwah, ia meninggalkan Madura dan menetap di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, hingga tahun 1948. Hijrahnya berlanjut ke Karanganyar, Paiton, Probolinggo. Dari tempat inilah beliau mulau merintis Pondok Pesantren Nurul Jadid bersama dua orang santri. Perjuangan itu tak mudah san sempat ditangkap dan dipenjara di LP Probolinggo dari Desember 1948 hingga Maret 1949.
Pasca-kemerdekaan, kiprah KH. Zaini Mun’im semakin luas. Tahun 1950 mendapat diundang KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI kala itu, sebagai penasihat jamaah haji Indonesia. Sepulang dari tanah suci, ia fokus membangun Pesantren Nurul Jadid menjadi pusat pendidikan dan dakwah. Pesantren Nurul Jadid kemudian berkembang dengan adanya Madrasah Ibtidaiyah Agama, TK Nurul Mun’im, Muallimin, Madrasah Tsanawiyah, hingga Akademi.
Secara sosial-ekonomi, keluarga KH Zaini Mun’im tergolong mapan. KH Abdul Mun’im dikenal sebagai perintis pertanian tembakau di Madura, sekaligus pedagang yang menjangkau berbagai daerah di Pulau Jawa. Selain mengasuh pesantren, ia juga mendirikan pabrik sepatu, koper, hingga pabrik rokok. Demi mengembangkan usaha, keluarga ini kemudian merantau ke Gondanglegi, Malang, Jawa Timur. Lingkungan keluarga yang religius sekaligus mandiri secara ekonomi ini memberi fondasi kuat bagi pembentukan karakter KH Zaini Mun’im sejak dini.
Sebagai ulama produktif, KH Zaini Mun’im meninggalkan sejumlah karya penting, antara lain: Taysirul Ushul fi Ilmil Ushul, Tafsirul Qur’an bil Imla’, Nazhmu Syu’abil Iman, Nazhmu Safinatun Najah, Tafsir Surat al-Fatihah, serta tulisan tentang berbagai problematika dakwah Islamiyyah. Karya-karya ini menjadi bukti bahwa perjalanan hidupnya bukan hanya tentang pengembaraan ilmu, tetapi juga pengabdian nyata bagi umat.
Dalam struktur Nahdlatul Ulama, KH. Zaini Mun’im dikenal sebagai tokoh yang tegas dan visioner. Ia menjabat Rais NU Cabang Kraksaan sejak 1953 hingga 1975, terpilih sebagai anggota Dewan Partai NU pada Muktamar ke-21 di Medan, dan menjadi Wakil Rais PWNU Jawa Timur pada tahun 1960.
Beliau wafat pada Juli 1976 . Tiga hari sebelum wafat, KH. Zaini Mun’im masih berdakwah di Desa Bula Jaran, Probolinggo. Kondisinya menurun hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada usia 70 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. KH. Masjkur, tokoh nasional dan mantan Ketua Umum PBNU, menyebutnya sebagai ulama pejuang yang berani, berprinsip, dan setia merawat NU hingga akhir hayat. KH. Zaini Mun’im bukan hanya pendiri pesantren, tetapi penjaga nilai, perawat umat, dan teladan perjuangan.
Penulis: Nurul Huda (dari berbagai sumber)
Advertisement