Nasirunan, Warisan Nasirun yang Melampaui Lukisan
Semula saya melihatnya sekadar sebagai seorang seniman yang istimewa. Tapi ternyata lebih dari itu. Ia telah menjelma menjadi rujukan komunitas. Bahkan bisa berkembang menjadi mazhab kehidupan seniman.
Itulah yang terjadi pada diri Nasirun. Perupa kelahiran Cilacap yang belum seratus hari meninggalkan kita semua. Pelukis yang meninggalnya dikenang banyak orang. βSaya sampai lelah diminta berbicara soal Nasirun,β kata Ugo Untoro.
Ugo mengungkapkan itu dalam diskusi Mengenang Nasirun di Artsubs, Balai Pemuda Surabaya, akhir pekan kemarin. Dosen ISI Yogyakarta ini menjadi pembicara bersama Sarah Monica dan Jumaldi Alfi. Diskusi itu dipimpin kurator Artsubs Nirwan Dewanto.
Alfi adalah perupa yang juga tetangga Nasirun di Perumahan Bayeman Permai Yogyakarta. Sementara itu, Sarah adalah antropolog UI yang pernah meneliti karya-karya Nasirun. Alfi juga telah menerbitkan buku berjudul Hikayat Nasirun.
βNasirun itu paradoks,β kata Nirwan mengawali diskusi. Ungkapan itu langsung disambut Sarah yang cantik itu. βIa mengubah ketradisian menjadi karya kontemporer. Ia lantas memberi sejumlah contoh karya Nasirun yang menjadi objek penelitiannya.
Diskusi yang diikuti para seniman itu lebih banyak ngrasani Nasirun. Bukan ngrasani tentang keburukannya. Tapi lebih kepada kebaikannya. Atau memang sebagai seniman, Nasirun adalah contoh perupa yang tanpa ada perilaku buruknya. βIa tak pernah ngomong kasar, misuh, dan sebagainya,β tambah Ugo.
Saya tentu tidak bisa memastikan seseorang tanpa keburukan. Tapi kesaksian teman-temannya itu menunjukkan sesuatu. Ada perilaku yang begitu membekas. Sampai ketika orangnya sudah tidak ada, yang terus hadir justru teladannya.
Nasirun meninggal di saat cara hidupnya masih dibutuhkan para seniman lain. Itulah kesan yang saya tangkap dari cerita Alfi. Lima belas tahun bertetangga rupanya bukan sekadar urusan rumah yang berdekatan. Ada kedekatan lain yang tumbuh dalam keseharian.
Sepeninggal Nasirun, Alfi kehilangan gairah melukis. Ngedrop. Seperti orang linglung. Tidur pun sulit. Kehilangan itu mengganggu kehidupannya. Saya membayangkan ada ruang yang mendadak kosong. Ruang yang sebelumnya diisi perjumpaan, percakapan, dan kehadiran seorang tetangga.
Kita memang sering baru menyadari besarnya seseorang setelah ia pergi. Ketika masih ada, kebaikannya terasa biasa. Karena dilakukan terus-menerus. Setelah tak ada, barulah terasa bahwa yang biasa itu ternyata luar biasa.
Ugo mengenang perkenalannya dengan Nasirun lewat bahasa ibu. Bahasa ngapak. Nasirun lebih dulu menyapanya. Saat Ugo baru masuk SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa). Menanyakan apakah ia orang Purbalingga. Sapaan sederhana yang langsung memperpendek jarak. Tidak perlu pengantar tentang reputasi atau pencapaian kesenian.
Dari situ saya menangkap bahwa Nasirun tidak merasa perlu meninggalkan asal-usulnya untuk menjadi seniman besar. Ia tetap membawa desa. ββNasirun itu tetap ndesit (sebutan ndeso atau kampungan),ββ kata Nirwan. Membawa bahasa. Membawa cara bergaul yang membuat orang lain tidak harus bersusah payah menyesuaikan diri.
Ugo menghubungkannya dengan Bawor. Tokoh pewayangan Banyumasan yang bicara terus terang. Losss. Tidak sibuk membungkus diri agar tampak lebih tinggi daripada orang lain. Dianggap tukang kebun pun tidak menjadi persoalan. Harga dirinya tidak ditentukan oleh anggapan orang.
Baworisme. Begitu Ugo juga menyebutnya. Sikap yang membiarkan manusia tampil sebagaimana dirinya. Bisa terkenal tanpa harus menciptakan jarak. Bisa berhasil tanpa harus malu dengan tempat ia berasal.
Sejak awal Nasirun juga sudah terbiasa mengurus orang. Saat datang ke tempat kontrakannya ketika masih sekolah, Ugo menemukan Nasirun telah mempekerjakan 6 orang untuk membatik. Kehidupannya berbeda dengan mahasiswa yang masih berkutat dengan kos atau kontrakan.
Artinya, sejak muda urusannya sudah menyangkut penghidupan orang lain. Ada pekerjaan yang harus diatur. Ada orang yang harus diajak berjalan. Kemampuan mengorganisasi itu kemudian menemukan maknanya dalam pergaulan seni rupa. Ia menjadi tempat berlindung.
Semula sikap semacam itu bisa saja dibaca sebagai strategi membangun nama: Branding. Tapi kesaksian yang berulang membuat dugaan itu kehilangan pijakan. Sebab yang diceritakan adalah perilaku sehari-hari. Berlangsung lama. Dirasakan orang-orang yang mengenalnya dari dekat.
Dalam berkarya pun ia tidak serta-merta mudah dipahami. Ada yang mempertanyakan apakah ia sedang melukis atau membatik. Ada pula yang mencemooh lukisannya. Barangkali karena orang lebih mudah menerima sesuatu yang sudah tersedia kotaknya.
Nasirun membawa sesuatu yang tidak segera cocok dengan kotak itu. Wayang, tradisi, dan pengalaman hidupnya masuk ke dalam karya. Sarah membacanya sebagai pertemuan antara yang lampau dan yang kini. Karyanya bisa dilihat berlapis-lapis. Berbeda pintu masuk, berbeda pula yang ditemukan.
Tampaknya, di situlah paradoks yang disebut Nirwan menjadi menarik. Tradisi ternyata tidak menghalangi seseorang menjadi kontemporer. Justru bisa menjadi sumber untuk berbicara tentang kehidupan sekarang. Asal tidak berhenti sebagai pengulangan bentuk.
Tapi yang paling mengusik dari semua itu adalah pilihan hidupnya. Nasirun memilih seni sebagai jalan menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang selesai. Ungkapan terakhir ini terasa sederhana. Padahal menjalaninya tentu tidak gampang.
Selesai dengan diri sendiri bukan berarti berhenti berkarya. Barangkali justru bisa terus berkarya tanpa harus terus-menerus bertengkar dengan pengakuan. Tanpa merasa terancam oleh keberhasilan teman. Tanpa perlu mengecilkan orang lain untuk membesarkan diri.
Saya tidak tahu apakah Nasirun pernah merumuskan semua itu. Bisa jadi tidak. Ia cukup menjalaninya. Orang-orang di sekelilingnya yang kemudian menemukan pelajaran. Tentang menjaga bahasa. Menjaga perilaku. Juga belajar ikhlas seikhlas-ikhlasnya.
Perjalanan spiritualnya pun menjadi perhatian kawan-kawannya. Ada yang mulai mengikuti ketika ia masuk lebih jauh ke wilayah itu. Saya membacanya sebagai kebutuhan mencari kedalaman. Sebab seni bisa menghasilkan karya. Tapi kehidupan tetap membutuhkan pegangan.
Di tengah percakapan semacam itu, pertanyaan tentang mencari penghidupan dari seni tetap muncul. Wajar. Seniman juga harus hidup. Harus menemukan jalan agar bisa terus bekerja. Tidak semua orang memulai dengan keadaan yang lapang.
Justru karena itulah keteladanan Nasirun terasa berarti. Keberhasilan tidak membuatnya kehilangan kepedulian pada kesulitan orang lain. Pengalaman berjuang tidak berhenti menjadi cerita tentang kehebatan diri. Ia hadir dalam cara memperlakukan sesama.
Cara hidup berkesenian ala Nasirun itu melahirkan apa yang disebut Alfi: Nasirunan. Nasirun dengan tambahan an. Artinya cara hidup yang suka menolong. Seperti teladan yang ditunjukkan selama hidupnya. Yang suka menolong sesama seniman dan siapa saja yang membutuhkan.
Tentu tidak perlu buru-buru menjadikannya paham yang baku. Apalagi sampai semua perkataannya dianggap selalu benar. Keteladanan akan lebih berguna kalau membuat orang terus berpikir. Lalu menemukan cara sendiri untuk berbuat baik.
Nasirunan bisa sesederhana menjaga mulut ketika sedang marah. Tetap menyapa ketika sudah terkenal. Membuka kesempatan ketika punya kemampuan. Tidak malu pada bahasa ibu. Dan tidak merasa berkurang ketika membantu orang lain tumbuh.
Mungkin itulah yang membuat kepergiannya terasa begitu mengganggu. Yang hilang bukan hanya seorang pelukis. Tapi seseorang yang membuat orang lain merasa bisa menjadi manusia lebih baik.
Lukisannya tinggal di banyak tempat. Cara hidupnya tinggal di banyak orang. Dari situlah Nasirunan mungkin akan terus berjalan. Saya bersaksi, Nasirun memang seniman, perupa, pelaku kebudayaan, yang layak menjadi teladan.
Pekerjaan rumahnya kini bagaimana merawat karya-karya yang ditinggalkan. Agar tetap bisa dilihat generasi lintas zaman. Agar karya-karyanya tak hanya dinikmati para kolektor yang memilikinya. Tapi mereka yang ingin belajar kehidupan dari pelukisnya.
Kelompok Nasirunan di Jogja mungkin telah memikirkannya.
Advertisement